Matinya Kebebasan Beragama di Indonesia : Laporan Pandangan Mata Penyerangan FPI Terhadap AKKBB Jun 3, ‘08 7:43 AM
for everyone
Berikut ini laporan pandangan mata salah member milis Jurnal Perempuan yang mengahadiri aksi damai di Monas dalam rangka memperingati Hari Pancasila pada tanggal 1 Juni 2008. Tadinya saya juga berencana ikut aksi damai ini, namun karena saya ada latihan futsal saya tidak jadi ikut. Apa jadinya kalau saya ikut aksi ini ya?Berikut laporan pandangan mata:
Dear all,
Malam ini saya baru pulang dari rumah sakit, bersama Tim JP dan banyak
teman-teman dari RSPAD, meninggalkan Guntur yang sudah dijaga dua adik
perempuannya dan sahabatnya Hasib di kamar lantar 6 Gatot Soebroto. Semoga
dia bisa lelap. Tapi saya tak bisa tidur, jadi saya menuliskan pengalaman
hari ini buat teman semua.
Betapa shocknya kami tim JP yang pagi ini bersemangat mengikut Aksi Akbar
Apel di Monas bersama semua kawan-kawan di dari AKKBB, yang sudah menanti di
pintu Gambir samping Monas. Siang itu, setelah mampir ke rumah Mariana, saya
dan juga Azizah menuju ke Monas sambil bercanda dan tentu bergurau. Di ujung
telpon, Guntur juga sudah memberitahukan bahwa dia menuju ke sana untuk
bertemu kita di sana.
Setiba disana, kami melihat bus bus dan banyak orang berbaju merah, baru
selesai acara akbar PDIP di Monas juga. Lalu setelah sempat makan siang
cepat, saya, Mariana dan Azizah bergabung dengan tim AKKBB yang masih
membentuk barisan aksi damai walaupun memang tali belum terpasang benar,
Mariana sempat membantu, saya bercanda dengan Toyo dan kawannya dan juga
ikut memotret aksi.
Tidak lama kemudian, barisan berjalan dan menuju ke dalam lapangan tengah
Monas, walaupun saya agak sedikit heran. Saya pikir kita akan melipir dan
menuju HI dari samping bukan dari tengah–tengah lapangan. Entah kenapa saya
merasa sudah ada yang cukup aneh pada waktu itu. Saya malahan masih sempat
ber sms an dengan mas Bonie, yang sedang memantau kegiatan kami juga.
Kami melihat, di tengah (tepat depan monumen), teman dari AKKBB lainnya
sudah menunggu, dengan mobil soundsystem dan massa yang kurang lebih 300
atau 400 orang. Kami sedang bersiap mengatur barisan dan juga bersiap
menyanyi/berdoa awal. Di depan barisan saya lihat ada beberapa Ibu Ahmadiyah
yang juga hadir waktu kita aksi di bunderan HI beberapa minggu lalu. Betapa
semangatnya semua orang. Tapi mungkin kami lengah, karena saya memang tidak
melihat polisi dimanapun.
Dari jauh, saya berbisik dengan Azizah, karena insting memotret kami yang
tinggi. Sebarisan lelaki berbaju putih dengan nuansa hijau sana sini
bergerak berbaris ke arah kami. Wah itu FPI kata Azizah. Saya dan Azizah pun
memotret mereka berjalan/bergerak ke arah kami berdiri.
Ternyata mereka bergerak makin dekat, bernyanyi dan berteriak-teriak dengan
kencang. Dalam hitungan detik, kami sudah tidak mengira dan atau menduga,
mereka sudah menyerang merangsek ke barisan kami, memutus tali dan mulai
mengayunkan bambunya sambil berteriak Alahuakbar. Saya otomatis mencari
Toyo, Azizah dan Mariana yang ada di dekat saya. Semua tiba-tiba menjadi
chaos dan penuh keributan. Para FPI berteriak tangkap sekutu Gus Dur,
ALahuakbar, Ahmadiyah sesat dan lainnya yang saya sampai lupa. Saya berusaha
menarik Azizah dari kerumunan ayunan bambu yang mendekati kami dan mengajak
dia mencari jarak aman. Di kejauhan saya lihat Toyo berhasil menyelamatkan
diri, tetapi di lain tempat, bapak-bapak laih digebuki dengan bambu dan
dipukuli/dikeroyok oleh mereka. Pada pengeroyok berbaju putih, syal hijau
atau putih dan ikat kepala yang ada gambar pedang beradu. Belum lagi barisan
rompi hitam, para bapak bertuliskan BAP, Badan Anti Permurtadan. Entah dari
mana lagi mereka.
Di tengah chaos, saya mencari Mariana dan bertemu Ezky yang juga sedang
mencari para korban yang bisa dibantu. Saya sempat bertemu Jajang C Noer dan
Dyah Ayu Pasha yang juga sudah dibentak dan diusir para FPI dari lokasi
kejadian. Saya juga melihat mobil sewaan sound system dirusak dan peralatan
dihancurkan. Semua poster kami dibakar dan mereka mengejar semua teman yang
sudah terpencar. Saya teringat Guntur dan menelponnya tapi tidak bisa. Tak
lama juga terlihat pasukan polisi yang selalu telat datang.
Guntur ternyata sudah ada di lokasi dan mendadak dia menelpon saya, “Aku
kena, Lin”. Begitu katanya, saya kaget dan langsung nanya dia dimana. Karena
pukulan di kepala, Guntur sempat blank dan tidak tahu posisi dia dimana.
Saya telpon dia dan dia juga menelpon saya bolak balik. Saya bilang ke
Mariana, wah Guntur kena. Dimana ya dia. Ternyata di waktu bersamaan, Guntur
sempat diselamatkan kawan-kawan termasuk Toyo dan sempat dibawa ke ambulans.
Karena dia keras kepala, akhirnya dia turun lagi karena mau memantau situasi
dan merasa lukanya tidak berat. Walaupun darah terus mengucur begitu kata
Toyo yang hari itu mengorbankan kemejanya buat pendarahan di muka Guntur.
Setelah berhasil memberikan HP dia ke orang2 di sekitarnya (waktu itu Guntur
ada dekat tempat makan dan wartel), saya menanyakan petunjuk dimana
keberadaan Guntur. Lalu saya pun berhasil menemukan dia dikerubungi
bapak-bapak yang kasihan dan membantunya. Saya langsung memeriksa luka dia
dan melihat robekan besar di dahi, mata bengkak berdarah dan darah mengalir
dari hidung terus seperti ingusan. Tapi ingusnya darah dan keluar terus. Dia
mengoceh sana sini mau telpon adiknya dan lainnya. Saya dan Azizah dan Toyo
mencari taksi dan membawa dia segera ke RSPAD. Dalam perjalanan Guntur masih
sempat telpon dan sms adiknya dan lainnya. Saya dan Azizah terpaksa
mengambil Hp dia agar dia diam dan pendarahan tidak menjadi parah.
Sesampai di UGD RSPAD, kami langsung ditangani suster. Tidak lama seorang
dokter perempuan muda datang. Dia bilang harus rontgen dan mungkin ada
prosedur bedah plastik melihat lukanya. Sambil melayani telpon sana sini
dari semua orang kami mengurusi urusan admin dan lainnya. Saya juga menemani
Guntur ke rontgen dan bersama Azizah sempat complain karena lambannya
pelayanan dan kita juga aktif membantu membersihkan darah di tangannya yang
berlumuran. Akhirnya, jam 4.30 sore sang dokter bedah plastik datang dan
memeriksa. Setelah diagnosa, dia bilang harus operasi (tapi kecil), untuk
mengembalikan tulang hidung yang bengkok, pelipis bawah mata retak sedikit
dan jahitan buat robek di dahi yang besar. Rontgen hanya melihat masalah di
tulang wajah saja, tidak ada gangguan di kepala/otak. Jadi dia aman.
Setelah kami cukup lega dan semua tim JP akhirnya sudah datang, kami pun
mengurus pembayaran operasi dan mengantar Guntur ke ruang operasi. Waktu itu
ada juga kawan-kawan lain mulai berdatangan, termasuk dua adik Guntur yang
kaget melihat kakaknya. DI UGD, Guntur sempat memarahi saya karena
memberitahukan keberadaannya di RS kepada adiknya, saya pun kena semprot
lagi karena memberikan kondisi “fisik” terakhir Guntur via telpon. Biarpun
gitu, saya diam saja, yang penting urusan medis beres.
Saya mengerti Guntur tidak mau keluarganya repot dan sedih. Tapi toh,
akhirnya sang ibunda terpaksa kaget dan melihat berita di Televisi (entah
yang mana). Lagi-lagi kami sempat kena semprot. Selain itu, ketika kami
sedang repot sana sini mengurus kamar, ada juga yang sempat memaksa harus
pilih lokasi di kamar tertentu, yang membuat saya jadi jengkel, karena kok
orang sakit jadi harus repot di atur sana atur sini. Padahal kami dari
jurnal perempuan sudah tahu tanggung jawab kami dan akan mengurus sampai
beres. Ada orang sakit kok jadinya malah kita harus ribut. Harusnya kan kita
semua memikirkan kepentingan Guntur, bukan ribut memikirkan fasilitas kanan
kiri, yang tidak ada juntrungannya. Atau mungkin pahlawan kesiangan ya? Biar
kelihatan repot? Duh saya jadi sepet, mungkin kepanasan dan capek juga.
Jam 5.30 sampai jam 7, kami tergeletak duduk-duduk di dekat ruang operasi,
menunggu. Ada saya, mariana, mba Deedee, Aquino, mas Bonnie(Nur Iman
Subono), Toyo, mas Hudan Hidayat, Malik, lalu tak lama Nita dan Ade
jauh-jauh dari Bandung juga bergabung dengan kami. Saya sempat pesiar ke
ruang lobby dan menemukan beberapa ibu-ibu Ahmadiyah datang dan memberikan
konsumsi untuk kami yang berjaga di rumah sakit. Mereka sangat prihatin dan
mau menjenguk Guntur. Ah ibu-ibu baik sekali ya. Sampai pukul 9 malam mereka
masih menemani dan dengan tertib akhirnya ikut menjenguk ke lantai 6 ketika
akhirnya Guntur dipindah ke kamar. Semua sahabat guntur, dari TUK/Utan Kayu,
Radio, Kongkow Gus Dur, wartawan, seniman dan aktifis lainnya berkumpul di
lantar 4 dan 6 terlihat sabar menanti.
Setelah keluarga berembuk, Hasib akan menjagai Guntur malam ini dan besok
tim JP akan membantu menggantikan keluarga menjaga Guntur di RS.
Sesuai pesan dokter, mungkin Selasa boleh keluar dari rumah sakit. Sekarang
harus istirahat dulu dan jangan banyak bicara. Tim JP sempat rapat sebentar
dan malam ini kami harus mempersiapkan konferensi pers besok dan tentunya
siaran pers untuk disebar. Kami juga sempat melihat pak Deddy dari Ahmadiyah
yang lewat terbaring, karena akan di rawat di lantai yang sama karena luka
penganiayaan.
Kami pun nongkrong di lt 6 sampai akhirnya diusir oleh satpam karena jam
besuk telah lewat.
Minggu siang ini, memang lain daripada yang lain. But I can’t complain…
semangat!!!!
Tags: hak asasi manusia
Prev: Dibekuk Korea 0-3
Next: Sejarah Itu Terulang Kembali

No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini